Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Januari 2013

Islam dan Ilmu Pengetahuan


Zaman dimana sebelum datangnya Islam, disebut sebagai zaman jahiliyah atau boleh disebut sebagai zaman kegelapan ataupun zaman kebodohan. Suatu zaman yang tak diterangi oleh ilmu pengetahuan, bukan hanya di Semenanjung Arab tapi di seluruh muka bumi saat itu ilmu pengetahuan berada pada titik nadirnya. Faktanya pada abad-abad tersebut sangat sulit ditemukan para Alim Cendikiawan yang dengan ilmunya bisa memberikan pencerahan kepada umat manusia. Bisakah Anda menyebutkan satu nama cendikiawan yang mengemuka antara abad ke-3 M sampai masa datangnya Islam? Agak sulit bukan untuk menjawabnya? Para Filsuf Cina seperti Laotse dan Konfusius atau Sidartha Gautama “Sang Pencerah” dari India juga tentu saja Phytagoras, Plato, Aristoteles dan Cendikiawan lainnya dari Yunani, zaman mereka telah berlalu berabad sebelum datangnya Islam. Pusat-pusat peradaban seperti Persia dan Byzantium yang saat itu menjadi dua Bangsa Adi daya, tak memunculkan sekalipun hanya satu orang cerdik pandai. Lembaran-lembaran yang menorehkan majunya logika Yunani hanya tersimpan di perpustakaan Alexandria dan terancam usang sampai nanti akhirnya terselamatkan saat Umat Muslim melakukan penterjemahan secara masiv terhadap lembaran-lembaran yang berisi ilmu pengetahuan tersebut. Pesatnya eksplorasi ilmu pengetahuan oleh Umat Muslim tidak hanya berlaku terhadap obyek-obyek pengetahuan dari Bangsa Yunani. Umat Muslim juga gencar mengeksplorasi ilmu pengetahuan dari Bangsa Cina (seperti pembuatan kertas, bubuk mesiu, dll) dan ilmu pengetahuan dari Bangsa India (seperti Astronomi dan Matematika).

Singkat cerita, yang ada hanyalah kesuraman yang melingkupi peradaban dunia di masa-masa sebelum datangnya  Islam. Di tilik dari satu sudut pandang ini saja, Islam betul-betul Rahmat untuk peradaban manusia, lebih luasnya tentu saja rahmatan lil ‘alamin. Islam sebagai sebuah Agama yang lahir 14 abad yang lalu, begitu memberi apresiasi yang sangat besar dan mendorong pemeluknya untuk terus mengeksplorasi ilmu pengetahuan.
Agama dengan ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad adalah:  
خلق  الذى  ربك اقرأ باسم
 “Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (Qur’an, 96:1)

“Siapa yang menitih jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka baginya jalan menuju surga.” (Abu Khaithama, al-‘Ilm, hadits no.25).

Hadits di atas menerangkan dengan jelas bahwa surga adalah balasan untuk seorang Mukmin yang memilih hidup di jalan pencarian terhadap ilmu pengetahuan. Ada banyak lagi hadits-hadits lainnya yang mengisyaratkan betapa Umat Muslim diberi motivasi lebih untuk menggapai dan memungut hikmah pengetahuan yang terserak di muka bumi. Ada sebuah kisah yang cukup menarik akan hal ini, Setelah kemenangan Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya di perang Badr. Umat Muslim saat itu mempunyai beberapa tawanan dan lazimnya saat itu bahwa tawanan bisa ditebus dengan harta benda, tetapi ada beberapa tawanan yang bisa baca tulis dapat menebus kebebasannya dengan cara mengajari baca tulis kepada anak-anak Muslim di Madinah. Ilmu Baca Tulis untuk saat itu tentu saja sebuah pengetahuan yang masih jarang dimiliki oleh orang-orang pada saat itu dan merupakan suatu kelebihan tersendiri bagi yang menguasainya.

Abad-abad selanjutnya seiring dengan meluasnya pengaruh Islam, ilmu pengetahuanpun bersemi di muka bumi ini. Umat Muslim berada di zaman yang diterangi oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, dua sumber cahaya yang akan menerangi peradaban Umat selama dua warisan dari Nabi tersebut tetap teguh di pegang, dikaji dan terpatri di hati pemeluk Agama Islam yang menjadi rahmatan lil ‘alamin.  

Minggu, 20 Januari 2013

Prinsip Ajaran Islam dalam Empat Hadits

Syair yang  dilantunkan oleh A-Hafidz Abul Hasan Thahir bin Mufawwiz Al-Muafiri Al-Andalusi, seorang Imam, pakar hadits yang  wara' dan  tentu dipercaya oleh Allah SWT sebagai  lumbungnya ilmu. 

"Landasan agama menurut kami
Adalah empat kalimat dari sabda manusia terbaik
Yaitu jauhilah syubhat, zuhudlah,
Tinggalkan apa yang tidak ada manfaatnya bagimu,
dan berbuatlah dengan niat."

Dalam Kitab Al-Ikhlas wan Niyat, Ibnu Abu Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad terputus dari Umar bin Khaththab ra yang berujar, "Amal perbuatan terbaik ialah mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla, menjauhi apa yang dilarang-Nya, dan niat yang benar terhadap apa yang ada di sisi-Nya". Ini karena ajaran agama terfokus pada mengerjakan perintah, meninggalkan larangan dan berhenti dari syubhat. Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Abu Daud yang telah menulis Hadits sebanyak 500.000 hadits dan menyeleksinya sehingga tinggal sekitar 5000 hadits yang termuat dalam As-Sunan, berkata: "Prinsip-prinsip sunan dalam segala bidang adalah empat hadits:

  1. Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu dengan niat.
  2. Halal itu jelas dan haram juga jelas.  
  3. Di antara kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.
  4. Zuhudlah di dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka mencintaimu."