Alkisah pada ribuan tahun lalu,
hidup seorang Raja Muda yang memerintah sebuah negeri yang makmur dan damai
sentosa Loh Jenawi. Sang Raja hidup
dalam gelimang harta dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Siapa sangka, Sang
Raja yang sepertinya tak mengenal kosa kata “galau” karena semua hasrat
hidupnya terpenuhi, nampak sedih bermuram durja. Ooohh rupanya Sang Raja bosan
dengan semua permainan di waktu luangnya. Berburu kijang atau memanah apel yang
ditaruh di atas kepala pelayannya, hal-hal seperti itu sudah terlalu sering
dilakukannya. Saat itu tentu belum ada game online ataupun play station. Mengetahui Rajanya bosan dengan
semua permainan yang sudah dikenal, pihak kerajaan akhirnya mengadakan
sayembara ke seantero negeri. “Siapa saja penduduk negeri yang dapat
menyenangkan Sang Raja lewat permainannya maka akan diberi hadiah yang
berlimpah”. Sejak sayembara dimulai, sudah banyak rakyat dari seluruh penjuru
negeri yang mencoba peruntungannya namun belum juga ada yang bisa membuat Sang
Raja tertarik dengan permainan-permainan yang dipersembahkan kepadanya.

Seperti layaknya film India
1990an, tentu Jagoannya baru muncul di saat-saat genting. Akhirnya datang
seorang Cendikia Bijak dengan membawa seperangkat permainan yang kita kenal
dijaman kita dengan nama “Catur”. Sang Raja diberitahu semua aturan permainannya dan untuk menarik
perhatian Sang Raja, babak pertama permainan catur antara Sang Raja vs Cendikia
dimenangkan oleh Sang Raja. Tentu saja Sang Cendikia sengaja tuk mengalah agar
Raja bisa mulai tertarik dengan permainan yang dibawanya. Singkat cerita,
akhirnya Sang Raja merasa sangat puas dengan permainan baru yang dibawa oleh
Sang Cendikia tersebut. Menepati janjinya, Sang Raja akhirnya menanyakan hadiah
apa yang bisa diberikan kepada Sang Cendikia. Ternyata yang diminta oleh Sang
Cendikia hanyalah berupa bulir-bulir padi dalam tumpukan-tumpukan sebanyak
tumpukan sesuai dengan jumlah kotak yang ada dalam papan catur (64 kotak).
Tumpukan pertama sebanyak 1 bulir padi, tumpukan ke-2 berisi 2 bulir padi,
tumpukan ke-3 berisi 4 bulir padi, begitu seterusnya sampai tumpukan ke-64,
tumpukan berikutnya selalu berisi 2 kali lipat bulir padi dari tumpukan
sebelumnya.
Tanpa pikir panjang, Sang Raja
menyetujui permintaan Sang Cendikia yang hanya meminta tumpukan-tumpukan padi
sebanyak jumlah kotak dalam papan catur yang masih bisa terhitung berjumlah 64,
Toh hanya padi yang banyak terdapat di lumbung kerajaannya dan bukan emas atau permata
yang tak ternilai harganya. Seandainya Sang Cendikia ini meminta dibuatkan
papan dan bidak catur dari emas dan permata sekalipun tentu akan dikabulkan
juga permintaannya, pikir Sang Raja. Para Punggawa kerajaan akhirnya mulai
menghitung bulir-bulir padi untuk diberikan sebagai hadiah kepada Sang Pemenang
Sayembara, namun sampai habis bulir padi di lumbung kerajaan bahkan sampai
seluruh bulir padi di seantero negeri dikumpulkan tak juga bisa mencukupi untuk
memenuhi permintaan Sang Cendikia.
Gue harus bilang wooowww gitu? Memangnya
berapa bulir padi yang diperlukan yaa? Mari kita hitung!
Bulir padi yang diperlukan = 1 +
2 + 4 + 8 + 16 + 32 + dst (merupakan
deret ukur) bisa kita ganti dengan
deret = 2
0 + 2
1
+ 2
2 + 2
3 + 2
4 + 2
5 + .......+ 2
63
.
Waaahhh, untungnya ada Microsoft
Excel di era kita, dan hasilnya adalah
18.446.744.073.709.600.000 bulir
padi. Jika bulir padi kita ganti dengan satuan mata uang yang kita kenal "Rupiah" (1 bulir padi = 1 Rupiah), yang mana nilai 1 Rupiah sangatlah kecil akan tetapi terasa sangat banyak saat harus menyebut Rp 18.446.744.073.709.600.000,- (lebih dari 18 juta trilyun rupiah, bandingkan dengan APBN Indonesia tahun 2012 yang bekisar 1500 trilyun rupiah).