Rabu, 30 Januari 2013

Tiga Akhlak dalam Pergaulan Sehari-Hari

Interaksi kita dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak bisa lepas dari pergaulan dengan sesama manusia, bisa dengan keluarga & sanak kerabat, tetangga, rekan kerja dan orang-orang lainnya yang kita temui. Dalam interaksi tersebut ada kewajiban dan hak-hak setiap individu yang harus kita hormati, dimana hak-hak kita atas orang lain tentu dibatasi pula oleh kewajiban-kewajiban yang harus kita penuhi terhadap orang-orang di sekitar kita. Akan terjadi keseimbangan dan keselarasan dalam berinteraksi dalam pergaulan sehari-hari jika setiap individu memahami kewajiban dan hak-haknya masing-masing. 

Dalam buku "Panduan Lengkap Menuntut Ilmu" terjemahan dari Kitaabul Ilmi karya Fadhilatul 'Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, diterangkan bahwa tiga ahklak yang baik dalam pergaulan terhadap sesama manusia adalah:
  • Tidak Mengganggu (Tidak Menyakiti)
  • Bersikap Dermawan
  • Bersikap Ramah
  1. Tidak Mengganggu diartikan sebagai menahan diri kita untuk tidak mengganggu orang lain berkaitan dengan harta, jiwa, ataupun kehormatannya. Semakin besar hak orang lain atas diri kita, maka semakin besar pula dosa kita jika kita menyakiti mereka. Berbuat jahat kepada kerabat lebih besar dosanya daripada berbuat jahat kepada orang yang jauh. Berbuat jahat kepada tetangga lebih besar dosanya dari pada berbuat jahat kepada orang yang bukan tetangga. Hal ini dapat kita maklumi, bukankah jika kita melihat berita hari ini tentang seorang anak yang dianiyaya oleh orang tuanya, kita mempertanyakan perbuatan tersebut dengan terheran-heran, "koq bisa-bisanya orang tua yang seharusnya melindungi buah hatinya justru menjadi pelaku penganiyayaan terhadap anaknya sendiri?". Orang-orang di sekitar kita tentu mempunyai lebih banyak hak atas diri kita jika dibandingkan dengan orang-orang yang jauh dari kita.                                                                                                    Dalam riwayat Muslim:                                                                                                                     لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه
  2. Dermawan, bukan hanya tentang harta tetapi dalam arti lebih luas berarti membantu orang lain dalam mencapai tujuannya. Menyebarkan ilmu dan memaafkan juga tergolong sebagai kedermawanan.     Allah SWT berfirman tentang ahli surga (Ali Imran: 134): "Orang-orang yang berinfak baik dalam keadaan senang ataupun susah, orang-orang yang mampu menahan marah, dan orang-orang yang suka memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orangorang yang berbuat kebaikan."
  3. Bersikap Ramah, 

Senin, 28 Januari 2013

Islam dan Ilmu Pengetahuan


Zaman dimana sebelum datangnya Islam, disebut sebagai zaman jahiliyah atau boleh disebut sebagai zaman kegelapan ataupun zaman kebodohan. Suatu zaman yang tak diterangi oleh ilmu pengetahuan, bukan hanya di Semenanjung Arab tapi di seluruh muka bumi saat itu ilmu pengetahuan berada pada titik nadirnya. Faktanya pada abad-abad tersebut sangat sulit ditemukan para Alim Cendikiawan yang dengan ilmunya bisa memberikan pencerahan kepada umat manusia. Bisakah Anda menyebutkan satu nama cendikiawan yang mengemuka antara abad ke-3 M sampai masa datangnya Islam? Agak sulit bukan untuk menjawabnya? Para Filsuf Cina seperti Laotse dan Konfusius atau Sidartha Gautama “Sang Pencerah” dari India juga tentu saja Phytagoras, Plato, Aristoteles dan Cendikiawan lainnya dari Yunani, zaman mereka telah berlalu berabad sebelum datangnya Islam. Pusat-pusat peradaban seperti Persia dan Byzantium yang saat itu menjadi dua Bangsa Adi daya, tak memunculkan sekalipun hanya satu orang cerdik pandai. Lembaran-lembaran yang menorehkan majunya logika Yunani hanya tersimpan di perpustakaan Alexandria dan terancam usang sampai nanti akhirnya terselamatkan saat Umat Muslim melakukan penterjemahan secara masiv terhadap lembaran-lembaran yang berisi ilmu pengetahuan tersebut. Pesatnya eksplorasi ilmu pengetahuan oleh Umat Muslim tidak hanya berlaku terhadap obyek-obyek pengetahuan dari Bangsa Yunani. Umat Muslim juga gencar mengeksplorasi ilmu pengetahuan dari Bangsa Cina (seperti pembuatan kertas, bubuk mesiu, dll) dan ilmu pengetahuan dari Bangsa India (seperti Astronomi dan Matematika).

Singkat cerita, yang ada hanyalah kesuraman yang melingkupi peradaban dunia di masa-masa sebelum datangnya  Islam. Di tilik dari satu sudut pandang ini saja, Islam betul-betul Rahmat untuk peradaban manusia, lebih luasnya tentu saja rahmatan lil ‘alamin. Islam sebagai sebuah Agama yang lahir 14 abad yang lalu, begitu memberi apresiasi yang sangat besar dan mendorong pemeluknya untuk terus mengeksplorasi ilmu pengetahuan.
Agama dengan ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad adalah:  
خلق  الذى  ربك اقرأ باسم
 “Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (Qur’an, 96:1)

“Siapa yang menitih jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka baginya jalan menuju surga.” (Abu Khaithama, al-‘Ilm, hadits no.25).

Hadits di atas menerangkan dengan jelas bahwa surga adalah balasan untuk seorang Mukmin yang memilih hidup di jalan pencarian terhadap ilmu pengetahuan. Ada banyak lagi hadits-hadits lainnya yang mengisyaratkan betapa Umat Muslim diberi motivasi lebih untuk menggapai dan memungut hikmah pengetahuan yang terserak di muka bumi. Ada sebuah kisah yang cukup menarik akan hal ini, Setelah kemenangan Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya di perang Badr. Umat Muslim saat itu mempunyai beberapa tawanan dan lazimnya saat itu bahwa tawanan bisa ditebus dengan harta benda, tetapi ada beberapa tawanan yang bisa baca tulis dapat menebus kebebasannya dengan cara mengajari baca tulis kepada anak-anak Muslim di Madinah. Ilmu Baca Tulis untuk saat itu tentu saja sebuah pengetahuan yang masih jarang dimiliki oleh orang-orang pada saat itu dan merupakan suatu kelebihan tersendiri bagi yang menguasainya.

Abad-abad selanjutnya seiring dengan meluasnya pengaruh Islam, ilmu pengetahuanpun bersemi di muka bumi ini. Umat Muslim berada di zaman yang diterangi oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, dua sumber cahaya yang akan menerangi peradaban Umat selama dua warisan dari Nabi tersebut tetap teguh di pegang, dikaji dan terpatri di hati pemeluk Agama Islam yang menjadi rahmatan lil ‘alamin.  

Senin, 21 Januari 2013

Imam Al-Ghazali

Beliau dilahirkan di Thabrani distrik Thusi Khurasan pada tahun 450 H (1058 M) dan wafat di daerah asalnya pada tahun 505 H (1111 M). Al-Ghazali dikenal sebagai  Cendikiawan Muslim, praktisi pendidikan di dunia Muslim, dan juga seorang Sufi. Karya yang dihasilkan oleh Al-Ghazali hampir sekitar 400 judul buku meliputi Teologi, Fikih, logika, Filsafat, Tasawuf, Tafsir, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.   

Ihya Ulumiddin adalah adi karya Sang Imam, sebuah kitab tentang syariat dan tasawuf. Lewat kitab ini Sang Imam "mendamaikan syariat dengan tasawuf". Di pengantar Ihya Ulumiddin  Sang Imam seperti sedang mengajak dialog dengan orang-orang sejamannya karena kekacaubalauan mereka dalam memahami kebenaran Agama. Di masa itu Umat Islam secara materi berada dalam puncak kejayaan tetapi sekaligus juga dibutakan oleh silaunya kilauan dunia. Pengetahuan Umat tentang Agama menjadi simpang-siur karena dibingungkan oleh banyaknya aliran-aliran filsafat, agama, dan logika yang akhirnya menumbuhkan banyak perdebatan dan perselisihan di kalangan Umat. Di sinilah Sang Imam berperan sebagai pembela kebenaran Islam dan berusaha untuk mengembalikan nilai-nilai Islam yang murni seperti di masa-masa Islam awal.

Warisan yang ditinggalkan oleh Sang Imam kepada Umat Muslim mempunyai kesan yang mendalam dan abadi, dimana karya-karya Beliau menjadi rujukan Umat terutama di kalangan Sunni. Hal ini bisa dilihat seperti contohnya pesantern-pesantren di Indonesia, Buah karya Beliau seperti Bidayatul Hidayah (Permulaan Hidayah) dan Ihya Ulumiddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama) dipelajari secara komprehensif.

Minggu, 20 Januari 2013

Prinsip Ajaran Islam dalam Empat Hadits

Syair yang  dilantunkan oleh A-Hafidz Abul Hasan Thahir bin Mufawwiz Al-Muafiri Al-Andalusi, seorang Imam, pakar hadits yang  wara' dan  tentu dipercaya oleh Allah SWT sebagai  lumbungnya ilmu. 

"Landasan agama menurut kami
Adalah empat kalimat dari sabda manusia terbaik
Yaitu jauhilah syubhat, zuhudlah,
Tinggalkan apa yang tidak ada manfaatnya bagimu,
dan berbuatlah dengan niat."

Dalam Kitab Al-Ikhlas wan Niyat, Ibnu Abu Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad terputus dari Umar bin Khaththab ra yang berujar, "Amal perbuatan terbaik ialah mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla, menjauhi apa yang dilarang-Nya, dan niat yang benar terhadap apa yang ada di sisi-Nya". Ini karena ajaran agama terfokus pada mengerjakan perintah, meninggalkan larangan dan berhenti dari syubhat. Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Abu Daud yang telah menulis Hadits sebanyak 500.000 hadits dan menyeleksinya sehingga tinggal sekitar 5000 hadits yang termuat dalam As-Sunan, berkata: "Prinsip-prinsip sunan dalam segala bidang adalah empat hadits:

  1. Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu dengan niat.
  2. Halal itu jelas dan haram juga jelas.  
  3. Di antara kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.
  4. Zuhudlah di dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka mencintaimu."



Al-Farabi dan Filsafat Yunani Klasik


Al-Farabi  dengan nama lengkap ابونصر محمد بن محمد فارابی‎ / Abū Naṣr Muḥammad ibn Muḥammad Fārābī (870 M-950 M) lahir di Wasij distrik Farab sebuah derah di Transoxiana  dan wafat di Damaskus. Dunia Barat mengenalnya sebagai Alpharabius. Al-Farabi dikenal sebagai filsuf muslim yang terlahir di Era Kejayaan Kekhalifahan Islam. Beliau dijuluki  al-muallim al-tsani "Guru kedua" kaitannya dengan Aristoteles yang dipandang sebagai al-muallim al-awwal "Guru Pertama". Filsafat Al-Farabi memang lanjutan dan interpretasi dari Filsafat Yunani Klasik terutama Aristoteles. Karya-karya Al-Farabi tidak hanya berupa syarah  dari karya-karya Yunani Klasik tetapi juga berupa karya orisinal hasil dari penggalian makna dan interpretasinya terhadap karya-karya Yunani tersebut.

Terjemah Latin Ihsha' al-Ulum oleh Gerard dari Cremona
Terjemah Ihsha' al-Ulum

Al-Farabi adalah orang muslim pertama yang memperkenalkan pemakaian "logika" (mantiq) dalam dunia intelektual Islam. Karya-karyanya dalam hal ini antara lain: Kitab al-Huruf dan Kitab Alfazh al-Musta'malah fi al-Mantiq. Lewat Ihsha' al-Ulum Al-Farabi juga melakukan klasifikasi ilmu, di Barat kitab ini diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona dalam Bahasa Latin sebagai De Scientiss. Ihsha' al-Ulum sebuah karya yang mempengaruhi Cendikiawan Muslim setelahnya seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Al-Ghazali dalam usahanya mengklasifikasikan ilmu. Al-Farabi juga kemungkinan menjadi orang pertama yang bereksperimen tentang adanya vakum, Risalah fi al-khala (risalah tentang hampa udara). Dalam bidang Psikologi Sosial, Al-Farabi berpendapat bahwa:  "seorang individu yang terisolasi tidak bisa mencapai semua kesempurnaan sendiri, tanpa bantuan orang lain". Karya lainnya yang tak kalah fenomenal adalah sebuah karya di bidang musik Kitab al-Musiqa al-Kabir, sebuah karya dari pengembangan teori yang dilakukan  Al-Farabi di bidang Matematika (Phytagoras dan Ptolemeus). Menurut Sayyid Hossein Nasr dan Mehdi Aminrazavi, Kitab al-Musiqa sebenarnya adalah studi tentang teori musik Persia pada zamannya meskipun di Barat telah diperkenalkan sebagai sebuah buku tentang musik Arab . Dia menyajikan prinsip-prinsip filosofis tentang musik, kualitas kosmik dan pengaruhnya. Risalah mengenai Makna Akal ditangani dengan terapi musik, dimana Al-Farabi membahas terapi efek musik pada jiwa.
Al-Farabi merupakan salah satu tokoh Filsafat Islam yang menggali Filsafat Yunani dan menghasilkan sebuah kerangka pemikiran yang mampu memberikan topangan logis bagi ajaran-ajaran dasar Islam.  Al-Farabi, Khwarizmi dan Cendikiawan Muslim lainnya yang hidup di Era Keemasan Islam tidak ragu untuk memunguti hikmah dan ilmu pengetahuan yang tersebar di berbagai Bangsa seperti Yunani, India, Cina, dan yang lainnya dengan keyakinan bahwa kebenaran hanyalah satu dan berasal dari Allah SWT. "Hikmah adalah harta benda umat yang hilang dan wajib dipungut dimanapun ditemukannya", yang diyakini sebagai Sabda Nabi. Mungkin dengan semangat untuk mencari hikmah di seluruh penjuru bumi ini, Umat muslim dapat kembali meraih masa-masa emasnya bukan hanya sekedar mengenang kejayaan di masa lampau.