Kamis, 31 Januari 2013

Bang Udin dan Tujuh Ekor Anak Ayam


Bang Udin hanyalah seorang Pamong Desa yang sederhana di salah satu sudut negeri yang luas ini. Anak-anak kampung utamanya Remaja Masjid menjuluki  Bang Udin dengan panggilan Syekhul Ayam. Sebuah julukan yang selalu menimbulkan tanya bagi yang belum mengetahui kisahnya.
Sebagai Pamong Desa yang rajin, Bang Udin selalu kebagian kerjaan (orderan) dari masyarakat yang memang membutuhkan jasanya. Buat KTP, Surat Pengantar Nikah, Surat Keterangan Tidak Mampu bahkan sampai Surat Keterangan Kematian, datangi saja Bang Udin dan semuanya pasti beres. Istilah yang tak asing didengar oleh warga kampung dan dinisbatkan kepada Bang Udin tak lain dari perkataan, “Mau cara reguler atau cara ONH Plus?” Sederet kalimat yang selalu dilontarkan oleh Bang Udin kepada warga kampung yang sedang membutuhkan pelayanannya. Yang sudah pernah buat KTP, pasti sudah pernah  mendengar pertanyaan seperti itu dari Mulut Bang Udin. Kalau milih cara reguler tentu biayanya murah tapi lama, prosesnya sesuai prosedur yang berlaku. Kalau milih ONH Plus, cepat  dengan pelayanan super prima tanpa peduli prosedur tapi tentu dengan tambahan biaya yang tak ada hitam di atas putihnya.
Warga kampung yang memang ramah dan penuh pengertian, sebenarnya tak terlalu risau ataupun keberatan dengan pelayanan yang dilakukan oleh Bang Udin. Mereka mengerti bahwa gaji Bang Udin yang hanya bekisar 500 ribu rupiah tentu tak mencukupi untuk standar hidup layak keluarganya. Lagi pula Bang Udin selalu memberikan opsi kepada orang-orang yang memerlukan jasanya tersebut. Bang Udin tak pernah maksa dengan pasang tarif yang tak masuk diakal. Tak pernah menuntut untuk diberi “Apel Washington” apalagi minta disediakan “wanita yang kulitnya putih”.
Suatu harinya dalam rutinitas seperti biasa, Bang Udin pulang kerja dengan muka muram durja, rupanya dia kesal di hari itu semua orderan yang biasanya dia tangani diambil alih semuanya oleh Kepala Desa dan dia beserta teman-teman Pamong lainnya tak kebagian fee sepeserpun. Dari hulu sampai hilir semuanya diambil, begitulah kira-kira yang digerutukan oleh Bang Udin atas sikap atasannya. Tanpa melepas baju dinas kebanggaanya terlebih dahulu, untuk menghilangkan “stress” Bang Udin mengambil segenggam raskin, dia berniat memberi makan ayam-ayam kesayangannya. Tujuh ekor ayam muda yang kesemuanya jantan dan memiliki bulu-bulu yang indah. Ayam Bang Udin memang bukan Ayam biasa, turunan dari bibit unggul Ras Philiphin. Bang Udin memelihara ayam tersebut saat tetangganya yang hobi sabung ayam memberikan anak-anak ayam tersebut untuk dipeliharanya walau sebatas untuk kesenangan saja. Pada akhirnya memang Bang Udin menyenangi kegiatannya memelihara ayam-ayam tersebut, “untuk menghilangkan stress,” katanya.
Hari itu berbeda seperti hari-hari lainnya, mungkin karena suasana hati Bang Udin yang sedang galau gulana. Seperti biasa sih, ayam-ayam kalau diberi makan oleh Bang Udin tentu berebut saling patuk biarpun sesama teman sepermainan dan saudaranya. “Sssttt, ssssttt, tenang aja raskinku masih cukup banyak untuk memberi makan kalian semua”, tetap aja ayam-ayam tersebut masih berebutan bahkan sampai ada yang saling petitiran menunjukkan kejantanannya. Hahahaha, Bang Udin sontak tertawa melihat tingkah laku ayam-ayamnya, Dia membayangkan dirinya seperti ayam-ayam miliknya yang selalu berebut pakan bahkan sampai berdarah-darah padahal yang empunya ayam tak kekurangan raskin untuk dicurahkan bahkan sampai sebulan yang akan datang. “Bukankah Tuhanku juga sangat kaya untuk membagi rezeki kepada seluruh penduduk bumi?”
Setelah kejadian Bang Udin dengan tujuh ekor ayamnya, tak pernah lagi terdengar kalimat “Mau cara reguler atau cara ONH Plus?” dari mulut Bang Udin. “Seandainya para Pemimpin dan Orang-Orang Terhormat, Yang Mulia, dsb di Negeri ini memelihara anak-anak ayam, tentu mereka bisa melakukan pelayanan dengan sepenuh hati tanpa harus korupsi.” Sebuah kesimpulan aneh yang sekarang sering didengar dari mulutnya Bang Udin. Tak anehkan jika pada akhirnya Bang Udin dijuluki Syekhul Ayam oleh anak-anak remaja masjid di kampungnya?

3 komentar: